Berqurbanlah, Tapi Jangan Jadi Korban! (PART-2)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

#Definisi#

Dalam istilah fiqih ibadah ini disebut udhhiyah, Secara bahasa kata udhhiyah (الأضحية) bermakna :

اسم لما يضحى به، أو لما يذبح أيام عيد الأضحى

“Istilah yang digunakan untuk binatang yang dikorbankan. Atau binatang yang disembeli pada hari raya Idul Adha”

Sedangkan secara istilah Fiqih udhhiyah adalah :

ذبح حيوان مخصوص بنية القربة في وقت مخصوص.

“Penyembelihan binatang tertentu yang dikhususkan untuk niat mendekatkan diri (kepada Allah) pada waktu tertentu.”

(Lihat : Ad-Dur Al-Mukhtar 5/219, Tabyin Al-Haqaiq 2/6, Takmilah Al-Fath 8/66)

atau bisa juga didefinisakn sebagai :

ما يذبح من النَّعَم تقرباً إلى الله تعالى في أيام النحر

“Binatang yang disembelih dari jenis binatang ternak yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari nahr.”

(Lihat : Mughni Al-Muhtaj 4/282, Hasyiyah Al-Bajuri ‘Ala Ibnu Qasim 2/304. Kasysyaf Al-Qina’ 2/615)

Jika kita perhatikan di Indonesia Idul Adha itu juga sering disebut dengan Idul Qurban atau hari raya Qurban. Makanya pada tulisan berseri ini, penulis pun menggunakan istilah di atas sebagai judul. Penulis belum meneliti siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini, namun kalau kita perhatikan definisi yang telah disebutkan di atas, maka memang ada korelasi antara kata Qurban dengan Udhiyah. Yaitu terletak pada motivasi dalam melakukan ibadah ini, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam bahasa arab kata mendekati itu adalah (قَرِبَ – يَقْرَبُ) ‘Qariba-Yaqrabu’ yang bentuk mashdarnya (kata dasar) adalah (قُرْبَانًا) ‘Qurban’. Bisa jadi karena hal inilah makanya Idul Adha di sini juga disebut dengan Idul Qurban atau Hari Raya Qurban. Di Jakarta sana, orang-orang Betawi juga sering menamakannya dengan Lebaran Haji, karena pelaksanaannya bersamaan dengan pelaksanaan Ibadah haji.

Sementara di Jawa sini juga sering diistilahkan Riyoyo Besar. Logikanya kalau ada Riyoyo (hari Raya besar) berarti ada Hari Raya kecil juga. 🙂 Penulis juga belum menelusuri mengapa orang Jawa menyebutnya demikian. Namun, yang penulis temui ketika masih kuliah di Jakarta dulu, rata-rata memang para dosen maupun pegawai yang notabene orang Arab Saudi ketika menyambut kehadiran Idul Adha ternyata lebih meriah dibandingkan Idul Fitri. Salah satu buktinya, ketika momen Idul Adha banyak dari mereka yang pulang ke negara asalnya, bahkan liburannya pun lumayan panjang, sekitar 2 sampai 3 mingguan. Tidak seperti kebanyakan kampus yang ada.

Dari definisi di atas bisa ditarik kesimpulan bahwasanya ibadah udhhiyah ini terdapat dua unsur pokok, yang pertama adalah unsur batin yang tidak bisa dilihat kasat mata, dimana dalam bahasa fiqih disebut niat, yaitu niat untuk mendekatkan diri (qurbah) kepada Allah. Sedangkan unsur kedua adalah unsur lahir yang nampak berupa pemenuhan ketentuan-ketentuan yang ada seperti waktu, jenis binatang dan tata cara penyembelihannya.

Maka ketika ada perbuatan meskipun memiliki banyak kemiripan ketika tidak memenuhi kedua unsur tersebut tidak bisa digolongkan ke dalam ibadah Qurban. Contohnya : binatang yang disembelih untuk persembahan ‘sing mbaurekso’, meskipun tata caranya sesuai ketentuan ibadah udhhiyah namun dari motivasinya bermasalah. Atau orang yang menyembelih binatang Qurban tetapi niatnya adalah sebagai wujud syukur atas kelahiran anaknya, ini juga tidak termasuk udhhiyah tetapi aqiqah.

Contoh lain, ada orang yang membeli daging sapi yang sudah disembelih sebanyak 2,5 kwintal untuk dibagikan di hari Idul Adha, maka juga tidak termasuk udhhiyah, sebab tidak ada prosesi penyembelihan di sana. Padahal kan itu sebenarnya yang dicari.

(Bersambung dulu …)

Penulis : Tajun Nashr, Lc.
(Aktivis KAMMI Surabaya)

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *