Berqurbanlah, Tetapi Jangan Jadi Korban! (PART-1)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

#Muqaddimah#

Saat ini kita berada di penghujung bulan Dzul Qa’dah 1437 H, atau orang-orang Jawa menyebutkan bulan Selo, meskipun terdapat konotasi negatif dalam penyebutan ini, yaitu terdapat unsur kepercayaan bahwa bulan ini adalah bulan yang kurang pas dan cocok untuk mengadakan hajatan atau peringatan apapun.

Namun kepercayaan tinggallah kepercayaan dan ternyata begitu saja tergerus roda zaman. Buktinya tahun ini justru ulang tahun peringatan kemerdekaan negeri ini jatuh bertepatan di bulan yang dianggap kurang baik itu. Dan terbukti kepercayaan tersebut tidak menghalangi perayaan tahunan segenap bangsa dan tumpah tanah air Indonesia ini.

Di dalam syari’at islam, justru bulan ini adalah salah satu bulan haram, yaitu bulan yang dimana pada waktu itu diharamkan untuk melakukan peperangan. Tiga bulan yang lain adalah Syawwal, Dzul Hijjah dan Rajab. Sehingga bulan ini sebenarnya bulan yang istimewa, karena setelah bulan ini ada bulan lain yang juga tidak kala istimewanya yaitu bulan Dzul Hijjah.

Dimana pada bulan ini terdapat syari’at agung berupa pelaksanaan ibadah haji ke tanah suci Makkah Al-Mukarramah sebagai wujud pelaksanaan salah satu rukun islam tersebut. Selain itu pada bulan ini juga terdapat hari raya Idul Adha yang dimulai dengan pelaksanaan shalat Id dan dilanjutkan dengan ibadah penyembelihan ibadah atau dalam terminologi para fuqaha disebut dengan udhhiyyah (ألأضحية).

Ya, Ibadah. Jika kita bicara ibadah maka kita bicara mengenai ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Karena penyembelihan hewan qurban bukan hanya sekedar penyembelihan biasa, tetapi di sana ada unsur-unsur ta’abbudi yang harus dipenuhi agar perbuatan ini bernilai ibadah qurban. Sebab jika ketentuan-ketentuan tersebut tidak terpenuhi maka perbuatan ini pun tidak masuk kategori ibadah qurban, atau bahasa gampangnya orang tersebut belum terhitung berqurban.

Misalnya, ada ketentuan bahwa hewan yang bisa diqurbankan itu binatang tertentu saja maka meskipun jika ditimbang dagingnya sama banyak atau bisa jadi lebih banyak, namun binatang yang disembelih tidak masuk ketentuan (kuda misalnya) maka tidak terhitung sebagai ibadah qurban. Begitu pula masalah waktu, meskipun syarat dan ketentuannya semua terpenuhi tetapi ketika prosesi penyembelihannya itu dilakukan sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan, sebelum shalat Id misalnya, maka perbuatan tersebut juga tidak terhitung sebagai ibadah qurban.

Untuk itulah pada tulisan berseri ini akan dibahas mengenai hal-hal dan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan ibadah agung ini. Selamat mengikuti

(Bersambung…)

Penulis : Tajun Nashr, Lc.
(Aktivis KAMMI Surabaya)

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *