Cakrawala Misykat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”(QS. An-Nur : 35)

Al-Misykat artinya sebuah lubang di dinding tapi tidak tembus sebelahnya yang di dalamnya dipasang Al-Misbah (pelita besar) yang dibungkus dengan tabung kaca yang bercahaya (Az-Zujajah),

Ketiga perumpamaan ini hendak menggambarkan bahwa pada diri manusia terdapat tiga hal; jasad, hati dan cahaya hati. Gambaran orang mukmin yang telah Allah jadikan keimanan dan Al-Qur’an tertanam kuat dalam hatinya,

Pelita (hati) itu dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkahi yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat. Ibnu katsir menjelaskan pohon Zaitun yg tegak itu ibarat Syari’at yang tidak miring ke timur maupun barat. Ia tegak lurus mengarah kepada Allah,

Dalam konteks kekinian, bisa dalam bentuk pemahaman orang-orang “Timur” yang sosialis dan orang “Barat” yang berpaham kapitalis. Syariat islam tak condong kemanapun kecuali mengarah kepada Allah azza wa jalla,

Dari sini kita bisa mengerti bahwa mengamalkan Syariat dalam Al-quran maupun sunnah adalah bekal paling lestari untuk memancarkan cahaya hati sehingga mampu menerangi,

Hati yang bercahaya orang mukmin itu terlahir di masjid-masjid, kita bisa pahami bahwa titik awal pendidikan iman yang luhur adalah dari masjid. Mendirikan shalat, bertasbih, berdzikir, berzakat dan takut kepada Allah,

Ia tidak dilalaikan oleh perniagaan, jual beli dari mengingat Allah. Sesibuk apapun dalam berniaga, bermuamalah, bekerja, ia senantiasa merindukan masjid serta tak lupa beribadah dan berdakwah,

Betapa pentingnya pendidikan berbasis masjid. Dari masjid pula muncul pemikiran dan pergerakan yang membawa ke dalam kebaikan,

Ibnu ‘Athaillah berkata, “Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah bergegas melakukan kebaikan yang hukumnya sunnah dan bermalas-malas dalam mengerjakan kewajiban.”

Jangan sekali-kali meninggalkan amalan wajib karena hendak mengerjakan amalan sunnah. Mereka tenggelam dalam urusan yang dikategorikan mubah atau bahkan bid’ah,

“Cahaya api dan cahaya minyak, ketika keduanya berkumpul, niscaya keduanya akan menerangi.” Demikian pula cahaya Al-quran dan cahaya iman, jika keduanya berkumpul, niscaya keduanya akan menerangi.

Wallahu ‘alam…

Referensi:
~ Misykat – Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, M.Phil
~ Tarbiyah Ruhiyah – Said Hawwa [ ]

Penulis: Shahru Saifuddin

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *