Apakah Kita Termasuk?!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Telah kita ketahui bahwa jumlah umat Islam saat ini sangat banyak, tapi hal tersebut tidak sebanding dengan banyaknya tatanan kehidupan yang dilaksanakan dengan menerapkan aturan Islam. Umat Islam saat ini seperti buih di lautan, namun penyakit ashabiyah agaknya masih belum ditemukan obatnya, yang menjadikan persatuan umat belum bisa optimal dan tidak jarang juga banyaknya jumlah umat Islam dimanfaatkan oleh musuh Islam baik dalam hal politik, perdangan, ataupun hal-hal lainnya. Mengenai penyakit ashabiyah ,Rasulullah memberikan pesan dalam hadis berikut :

“Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.’ ” (HR. Abu Dawud No.4456)

Fenomena hijrah menjadi hits akhir-akhir ini, baik dari kalangan public figure atapun masyarakat umum. Namun kondisinya, mereka yang berusaha menjalankan Islam dengan sebener-benarnya syariat seringnya malah dianggap meresahkan atau juga dianggap asing karena berbeda dengan orang kebanyakan. Hal tersebut sejalan dengan pesan Rasulullah dalam hadis berikut :

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang asing (ghuraba).” (HR. Muslim)

Lantas kemudian timbul pertanyaan baru. Siapa yang termasuk ghuraba? Allahu a’lam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah memberikan isyarat tambahan tentang perpecahan umat dan mengerucutkannya pada golongan yang selamat, sebagai berikut :

“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : ‘Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah.'” (HR. Abu Dawud no. 4597)

Golongan yang selamat sesuai dengan hadis di atas sering dikenal dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dalam riwayat lain juga di kenal dengan sebutan Firqotun Najiyah, dimana mereka tidak hanya terdiri dari satu golongan melainkan beberapa golongan dengan tetap berpegang teguh pada Al-qur’an dan hadis. Golongan Firqotun Najiyah memiliki 3 ciri, sebagai berikut :

  1. Memiliki rujukan yang jelas dari Al-qur’an dan hadis.
  2. Ayat dan hadis tersebut dipahami dengan pemahaman Rasul dan para sahabat (bukan dengan pemahaman pribadi atau kelompok).
  3. Tidak mengajarkan fanatik pada pribadi atau kelompok tertentu karena tujuannya adalah mengarahkan umat pada Allah dan Rasul-Nya.

Golongan Firqotun Najiyah di dalamnya memiliki beberapa bagian, yang tidak berdasarkan pada kelompok Islam tertentu. Golongan ini memiliki bagian elit yang disebut dengan Thaifah al Manshurah yaitu sekelompok orang yang selalu memperjuangkan kebenaran dan mendapatkan pertolongan dari Allah sampai hari kiamat. Hal tersebut selaras dengan hadis berikut :

“Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, menang terhadap siapa saja yang memusuhi mereka, sampai perintah Allah datang dan Isa bin Maryam turun.” (HR. Bukhari)

Adapun sifat-sifat dari Thaifah al Manshurah ada 4, sebagai berikut :

  1. Laa tazaalu tha’ifah (senantiasa ada sekelompok). Ini bermakna senantiasa ada terus-menerus.
  2. Dzohiriina ‘ala al-haq (menegakkan kebenaran). Ini bermakna kemenangan.
  3. Laa yadhurruhum man khadzalahum wa laa man khaalafahum (tidak merugikan mereka orang-orang yang mencela (menghina) dan menyelisihi mereka). Ini bermakna membuat kemarahan ahlul bid’ah dan orang kafir.
  4. Kulluhaa fii an-naari ilaa waahidah (semuanya di neraka kecuali satu). Ini bermakna keselamatan dari neraka.

Adapun ciri-ciri dari Thaifah al Mashurah ada 7, sebagai berikut :

a. Ittiba(mengikut sunnah) bukan ibtida (membuat bid`ah).

Mereka berjalan mengikuti minhaj nubuwwah (methode kenabian); dan mencari petunjuk melalui pemahaman salafush shaleh terhadap nash-nash Al–qur’an dan hadis dalam seluruh urusan mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan sesat sepeninggal ku selama-lamanya, yakni kitabullah dan sunnah-ku.“

b. Berjihad fii sabilillah.

Jihad fii sabilillah merupakan ciri yang senantiasa melekat dan tidak bisa dilepaskan dari sifat Thaifah al Manshurah. Dalam keadaan apapun, mereka dikenali melalui sifat ini. Apabila mereka terpisah dari jihad fii sabilillah karena keadaan yang luar biasa, kita akan melihat bahwa mereka begitu bersemangat untuk menyingkirkan penghalang jihad dengan mengorganisir diri dalam suatu jamaah yang teratur rapi dalam rangka i’dad (peningkatan kualitas) agar mereka bisa memulai kembali berjihad fii sabilillah. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah ayat 54)

c. Membangun kesetian dan memulai permusuhan karena Allah.

Mereka ber-wala’ dan mencintai karena Allah, memusuhi dan membenci karena Allah. Mereka lemah lembut dan belas kasih terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka tidak mengenal wala` atau loyalitas kecuali yang ditegakkan di atas akidah. Berkenaan dengan hal tersebut Allah SWT berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath ayat 29)

d. Totalitas dalam ber-Islam.

Tha`ifah al Manshurah mengambil Islam secara keseluruhan tanpa mengabaikan salah satu aspek di antara aspek-aspeknya. Mereka bukanlah jamaah yang manhaj serta aktifitasnya hanya tegak dan terfokus pada aspek dakwah dan tabligh. Juga bukan jamaah yang hanya terpaku dan terfokus pada jihad. Mereka juga bukan jamaah yang manhaj-manhajnya berdiri di atas prinsip mencari ilmu dan fikih saja, tanpa menaruh perhatian terhadap aspek-aspek amaliyah atau pengamalan dari agama ini.

e. Bersikap adil.

Mereka bersikap adil dalam semua aspek kehidupan agama dan dunia mereka, di mana mereka tidak bersikap ghuluw (melewati batas ataupun jafaa` (menjauh), tidak juga ifraath (berlebih-lebihan) maupun tafriith (melalaikan). Sebagai catatan, sikap adil di sini bukanlah sikap kompromistis, yang justru mencampuradukkan antara kebenaran dan kebathilan. Tetapi, ia adalah sikap untuk selalu mengembalikan persoalan pada syariat Islam sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yakni 3 generasi utama Islam yang dijamin kebenarannya oleh Rasulullah. Sebagaimana firman Allah SWT: “Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai ummat “wasathan” (yang adil dan terbaik) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. Al – Baqarah ayat 143)

f. Ilmu.

Mereka adalah ulama (orang-orang yang berilmu) dalam urusan agama dan dunia mereka. Sebab, ciri-ciri dan sifat mereka yang telah disebutkan di muka menunjukkan kepada kita bahwa mereka adalah ulama. Namun demikian, bukan berarti setiap personal dalam Thaifah al Manshurah adalah orang-orang alim yang menonjol, dalam pencarian ilmu dan pencapaiannya. Hanya saja, kelompok yang mendapatkan sifat Thaifah al Manshurah tersebut tidak boleh kosong dari ulama rabbaniyun dan amilun.

g. Sabar dan teguh hati.

Beratnya beban tugas yang terpikul di atas pundak Thaifah al Manshurah, menuntut adanya satu sifat khusus yang harus mereka miliki, yakni sabar dan tsabat atau teguh hati. Mengapa demikian? Karena mereka adalah kelompok yang tidak bisa lepas dari ujian. Jika disebut kata Thaifah al Manshurah, pasti akan diikuti kata ujian, juga disebutkan kata sakit dan luka. Oleh karena itu, para anggota Thaifah al Manshurah ini pasti terbiasa dengan kesulitan hidup, pengusiran, penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan dan jihad.

Demikianlah ciri-ciri Thaifah al Manshurah dan sudah selayaknya kita berlomba-lomba untuk menuju pada mereka. Sebagai pemantap, agaknya perlu kita renungi kutipan hadis shahih berikut:

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang menegakkan agama Allah, mengalahkan musuh mereka, dan tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang hari kiamat atas mereka, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. Kemudian Allah mengirim angin seperti angin misk, sentuhannya seperti sentuhan sutera, dan ia tidak meninggalkan jiwa yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, kecuali ia akan mencabutnya, kemudian tinggallah seburuk-buruk manusia, terhadap merekalah kiamat akan terjadi.” (H.R Muslim)

Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah “Apakah kita sebagai kader KAMMI termasuk ke dalam golongan yang Allah sebut dalam firman-Nya ataupun yang Rasulullah sebut dalam sabdanya?!” Allahu a’lam. Doa baiknya adalah agar kita senantiasa di istiqomahkan dalam kebaikan, tidak disibukkan dengan kesia-siaan serta semoga berkumpulnya kita di rumah KAMMI ini bisa menjadi awal dari perkumpulan kekal di taman surga-Nya. Insya Allah.

Teruntuk kalian yang melabeli diri atau terlabeli dengan sebutan aktivis dakwah, ingatlah pesan dari Imam Syafi’i : “Apabila ada pendapatku yang bertentengan dengan sunnah Nabi maka buang pendapatku ke tembok.” Semoga pesan tersebut bisa menjaga kita untuk lebih bijak lagi dalam perkataan serta perbuatan. Jika saat berjuang terasa begitu berat, berbahagialah, semoga kita termasuk orang yang berpegang teguh pada agama Allah seperti yang di sebutkan dalam hadis berikut :

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260)

“Roda dakwah ini akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Jika kita pergi, ia akan diganti dengan orang yang lebih baik lagi. Maka, pilihanmu adalah menjadi pemain yang baik atau puas hanya menjadi penonton?!”

Sebuah pesan yang teramat sering kita dengar bahkan mungkin sudah sangat hafal di luar kepala. Masing-masing dari kita punya hak untuk memilih akan mengambil peran apa dalam kehidupan dakwah ini, pun juga masing-masing dari kita punya kewajiban untuk bertanggungjawab atas peran yang sudah dipilih. Allahu a’lam. []

Penulis: Nur Fitotus Sa’idah
(Kadep Kaderisasi PW KAMMI Jatim)
Editor: Misbakhul

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *