Fiqih Qurban (BAG.1)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Ilustrasi: Hewan Qurban (Jatimnet)

Saat ini (26 Juli 2020 M) kita sudah masuk tanggal 5 Dzul Hijjah 1441 H, artinya tinggal menghitung hari lagi kita akan masuk  tanggal 10 Dzul Hijjah 1441 yang merupakan hari besar bagi umat Islam di mana pada hari itu ada Hari Raya Idul Adha 1441 yang ditandai dengan diselenggarakannya shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban (udhhiyah).

Tulisan kali ini akan membahas mengenai Fiqih Qurban mulai dari definisi, hukum, syarat, rukun tata cara pelaksanaan sampai tata cara pembagiannya. Penulis akan menulisnya secara berseri. Di situs ini beberapa tahun yang lalu penulis telah menulis dua artikel berseri namun belum selesai pembahasannya Bagi yang ingin membaca bisa dicek di link berikut ini :

  1. Bagian 1 : http://kammijatim.org/berqurbanlah-tetapi-jangan-jadi-korban-1/
  2. Bagian 2 : http://kammijatim.org/berqurbanlah-tapi-jangan-jadi-korban-2/

Namun, agar lebih runtut pembahasannya maka penulis akan memulai dari awal lagi, dimulai dari definisi qurban (udhhiyah). Penulis berharap tulisan ringkas ini bisa menambah khazanah para pembaca sekalian mengenai fiqih qurban khususnya pada aktivis mahasiswa yang juga harus berperan penting dan terlibat aktif di masyarakat.

Selamat mengikuti……!

A. DEFINISI

Sesuai yang penulis sebutkan di judul tulisan ini, istilah yang penulis gunakan adalah istilah Qurban, hal ini karena memang istilah ini merupakan istilah yang populer di masyarakat kita. Kata Qurban sendiri sebenarnya juga memiliki akar kata dari bahasa Arab yang berasal dari bentuk kata kerja (قَرَّبَيُقَرِّبُ) sehingga bentuk mashdarnya menjadi (قُرْبَانٌ) yang bermakna mendekatkan diri atau mempersembahkan sesuatu. Atau dalam bahasa lain disebut :

 ما تقربت به إلى الله تعالى

“Sesuatu yang dijadikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah I.”[1]

Namun dalam literatur yang pernah ditelaah oleh penulis, istilah yang dipakai oleh para ulama adalah istilah Udhhiyah (الأضحية), untuk itulah pada kesempatan ini akan kita bahas definisi dari istilah ini. Meskipun secara esensi sebenarnya antara kata Qurban dan kata Udhhiyah memiliki kesamaan pada unsur tujuan ibadah ini ditujukan yaitu untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah I.

Secara bahasa Kata Udhhiyah (الأضحية) bermakna:

ما يذبح في يوم الأضحي

“Binatang yang disembeli pada hari raya Idul Adha.” [2]

Sedangkan menurut istilah para fuqaha Udhhiyah didefinisikan sebagai berikut :

ذبح حيوان مخصوص بنية القربة في وقت مخصوص

Penyembelihan binatang tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah pada waktu tertentu. [3]

Ada juga definisi lain yang hampir semakna namun lebih rinci :

ما يذبح من النعم تقربا إلى الله تعالى في أيام النحر

“Binatang-binatang ternak yang disembelih dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari nahr.” [4]

Dari definisi bahasa dan istilah di atas bisa kita tarik beberapa kesimpulan, antara lain :

  • Motivasi penyembelihan

Kata kunci dalam ibadah udhhiyah ini adalah pada penyembelihan binatang ternak. Di mana proses penyembelihan ini merupakan jenis ibadah ritual yang tujuan utamanya taqarrub (beribadah) kepada Allah. Sehingga ketika ada orang yang menyembelih binatang tetapi motivasinya bukan semata taqarrub maka hal itu tidak termasuk udhhiyah, misalnya menyembelih untuk dimakan dagingnya, untuk dijual, untuk tasyakuran, aqiqah dan lain-lain. Apalagi jika penyembelihan itu untuk dipersembahkan kepada selain Allah, maka ini tentu saja sudah masuk wilayah pelanggaran aqidah.

  • Berupa Binatang Ternak

Jenis binatang yang disembelih harus berasal dari binatang ternak. Binatang ternak yang dimaksud di sini pun terbatas hanya tiga jenis saja dan turunannya yaitu : Unta, Sapi dan Kambing. Selain jenisnya usia minimal binatang tersebut juga ada batasan minimalnya. Untuk itulah meskipun secara nilai hampir setara dengan binatang-binatang tadi tetapi kalau dari jenis berbeda maka tidak sah untuk dijadikan sebagai binatang qurban

  • Waktu Pelaksanaan

Adapun waktu pelaksanaan ibadah ini pun dibatasi pada hari-hari nahr (hari penyembelihan), di mana dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah harinya. Yang disepakati adalah pada tanggal 10, 11 dan 12 Dzul Hijjah. Adapun tanggal 13 Dzul Hijjah terjadi perbedaan pendapat yang insyaallah akan kami bahas pada pembahasannya.

Selain persyaratan di atas ada juga persyaratan terkait orang yang menunaikan udhhiyah terkait apakah boleh patungan lebih dari satu orang untuk satu binatang qurban ataukah tidak, bolehkan berqurban atas nama orang yang sudah meninggal dan lain-lain yang nanti akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan persyaratan udhhiyah.

B. HUKUM

Para ulama berbeda pendapat terkait hukum ibadah udhhiyah, dalam hal ini ada 3 pendapat. Perlu diingat bahwasanya hukum ini berlaku bagi orang yang mampu

melaksanakannya, dimana kriteria mampu ini pun para ulama berbeda pendapat, sehingga pendapat mengenai perbedaan ini hukum ini pun terkait dengan pendapat kriteria mampu tadi.

Berikut ini pendapat ulama dalam masalah ini :

1. Wajib

Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau, menurut mereka hukum udhhiyah ini wajib dilakukan setiap tahun bagi orang yang muqim dan mampu melaksanakannya. [5]

Dalil dari pendapat mereka sebagai berikut :

a. Firman Allah dalam Surat Al-Kautsar : 3

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”

Kalimat perintah pada ayat ini menunjukkan bahwasanya udhhiyah ini hukumnya wajib

b. Hadits Rasulullah ` yang diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah a berikut :

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Siapa saja yang memiliki kelapangan (harta), namun tidak melakukan udhhiyah maka janganlah dia mendekati (lapangan) tempat shalat ‘Id kami.[6]

Ancaman yang ada dalam hadits ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.

c. Udhhiyah merupakan bentuk ibadah yang waktu pelaksanannya disandarkan kepadanya, sehingga ada istilah hari penyembelihan (يوم الأضحى). Ini menunjukkan bahwasanya hari tersebut hari yang memang dikhususkan untuk ibadah udhhiyah, dan pengkhususan ini menunjukkan udhhiyah itu hukumnya wajib.

2. Sunnah Muakkadah

Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu Madzhab Maliki, Syafi’i, Hanbali dan dua murid Imam Hanifah (Abu Yusuf dan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani).[7] Sehingga ibadah ini makruh ditinggalkan oleh orang yang mampu melaksanakannya.

Dalil dari pendapat jumhur ulama sebagai berikut :

a. Dari Ummu Salamah –radhiyallahu ‘anha- Rasulullah e bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berqurban maka hendaklah dia menahan diri untuk tidak memotong rambut dan kukunya.”[8]

Pada hadits ini ibadah udhhiyah disandingkan (ta’liq) dengan iradah (keinginan) (أَرَادَ), dan penyandingan dengan iradah ini merupakan bentuk peniadaan kewajiban.

b. Dari Ibnu ‘Abbas t Rasulullah e bersabda :

ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ، وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ: النَّحْرُ، وَالْوِتْرُ، وَصَلَاةُ الضُّحَى

“Ada tiga hal yang wajib bagiku dan disunnahkan bagi kalian : Shalat Witir, Nahr (menyembeli udhhiyah) dan Shalat Dhuha.”[9]

c. Disebutkan dalam sebuah Atsar bahwasannya Abu Bakr dan ‘Umar t pernah tidak melakukan udhhiyah karena mereka berdua khawatir orang-orang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib.[10]

d. Udhhiyah merupakan sembelihan yag dagingnya tidak wajib dibagikan sebagaimana aqiqah, sehingga hukumnya pun tidak wajib.

Bantahan atas dalil madzhab hanafi :

e. Para Ahli hadits juga banyak yang mendha’ifkan hadits yang dijadikan landasan oleh madzhab hanafi di atas, atau redaksi ancaman pada hadits di atas juga memiliki kemungkinan bermakna penekanan kesunnahannya, ini sebagaimana terdapat teks hadits yang berasal dari jalur Abu Sa’id Al-Khudri a berikut ini :

غُسْلِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mandi di hari Jum’at itu wajib dilakukan oleh setiap orang yang baligh.”[11]

Meskipun ada redaksi wajib, namun para ulama sepakat bahwasanya kata wajib di sana bukan bermakna pewajiban tetapi penekapan kesunnahannya.

3. Sunnah ‘Ain bagi setiap orang dan Sunnah Kifayah bagi Satu Keluarga

Menurut Madzhab Syafi’i Udhhiyah hukumnya sunnah ‘ain bagi setiap orang sekali seumur hidup dan sunnah kifayah untuk satu keluarga. Yang dimaksud dengan sunnah kifayah di sini adalah jika ada salah satu anggota keluarga yang melakukannya maka kesunnahan udhhiyah itu akan gugur untuk seluruh anggota keluarga tersebut.[12]

Yang dimaksud dengan satu keluarga di sini adalah satu keluarga yang tinggal satu rumah atau tinggal di tempat lain tetapi nafkahnya merupakan tanggungan kepala rumah tangga.

Adapun jika ada orang yang memiliki hubungan keluarga seperti orang tua-anak, namun tinggal di rumah lain dan sudah memiliki tanggugan nafkah sendiri maka dianggap keluarga lain.

Dalil dari Madzhab Syafi’i bahwasanya udhhiyah adalah sunnah kifayah untuk setiapa keluarga adalah sebagai berikut ini :

a. Hadits Mihnaf bin Sulaim a dia berkata :

كُنَّا وُقُوفًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةٌ، هَلْ تَدْرُونَ مَا العَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Ketika kami melaksanakan Wuquf di ‘Arafah kami mendengar Rasulullah ` bersabda, “Wahai manusia, setiap penduduk rumah setiap tahun hendaklah

melaksanakan udhhiyah dan ‘athirah! Apakah kamu tahu apa itu ‘Athirah? Yaitu yang kalian sebut dengan Rajabiyah.”[13]

b. Hadits riwayat Anas bin Malik a berkata :

ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ، فَقَرَّبَ أَحَدَهُمَا فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، وَقَرَّبَ الْآخِرَ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَمَّنْ وَحَّدَكَ مِنْ أُمَّتِي

“Rasulullah ` berkurban dengan dua ekor domba yang bertanduk dan berwarna putih, beliau kemudian mendekati salah satu domba itu lalu berkata, ““Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah hewan ini berasal dari-Mu dan aku persembahkan untuk-Mu, ini dari Muhammad dan anggota keluarganya.” Kemudian beliau mendekati satu lalu berkata, “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah hewan ini berasal dari-Mu dan aku persembahkan untuk-Mu, ini dari setiap orang yang mentauhidkan-Mu dari ummatku.”[14]

c. Praktek ini juga dilakukan di zaman para sahabat b, sebagaimana diriwayatkan oleh Atha’ bin Yasar bahwasanya Abu Ayyub Al-Anshari a berkata kepadanya :

كُنَّا نُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ، يَذْبَحُهَا الرَّجُلُ عَنْهُ، وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ بَعْدُ، فَصَارَتْ مُبَاهَاةً.

“Dahulu kami berqurban dengan satu kambing yang disembelih oleh seseorang untuk dirinya dan untuk keluarganya. Setelah itu orang-orang berbangga dengan hal itu, dan kebiasaan ini kemudian menjadi sebuah kebanggaan.”[15]

Demikian perbedaan pendapat para ulama dalam masalah hukum pelaksanaan udhhiyah bagi orang yang mampu melaksanakannya.

Kriteria Mampu

Seperti disebutkan di atas bahwasanya para ulama berbeda pendapat mengenai kriteria seseorang dikatakan mampu untuk Udhhiyah, baik ulama yang berpendapat wajib ataupun sunnah. Lebih rincinya bisa kita petakan sebagai berikut :

  1. Madzhab Hanafi : Orang yang memiliki kelebihan harta diluar kebutuhan pokoknya senilai nishab zakat emas (setara 20 dinar atau ±85 gram emas)
  2. Madzhab Maliki : Orang yang memiliki kelebihan harta senilai binatang qurban untuk kebutuhan pokok selama setahun, seandainya mampu membelinya melalui cara berhutang maka boleh saja itu dia lakukan.
  3. Madzhab Syafi’i  : Orang yang memiliki kelebihan harta senilai binatang qurban untuk kebutuhannya dan orang yang ditanggungnya selama hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq
  4. Madzhab Hanbali           : Orang yang mampu membeli binatang qurban meskipun dengan hutang, dengan syarat dia bisa membayar hutang tersebut. [16]

Dari rincian perbedaan kriteria di atas kita bisa melihat bahwasanya Madzhab Hanafi yang dalam masalah hukum Udhhiyah cukup ketat yaitu wajib namun di sisi lain kriteria mampu menurut mereka cukup tinggi, yaitu minimal memiliki harta setara nishab yang melebihi kebutuhan pokoknya.

Sementara mayoritas ulama yang dalam masalah hukum udhhiyah cukup longgar yaitu sunnah muakkadah tetapi kriteria mampu menurut mereka cukup rendah yaitu memiliki kelebihan harta senilai harga binatang qurban melebihi kebutuhan pokok selama satu atau selama hari raya dan hari tasyriq. Bahkan ada juga yang berpendapat jika seseorang bisa mendapatkan hewan qurban walau dengan berhutang pun masuk kriteria mampu seperti yang diungkapkan Madzhab Maliki dan Hanbali di atas.

Demikian pembahasan mengenai Fiqih Qurban untuk bagian pertama ini, adapun pembahasan lain terkait syarat qurban, waktu pelaksanaan dan kriteria binatang yang diqurbankan insyaallah akan dibahas dibagian kedua. Jika ada yang ingin didiskusikan terkait pembahasan ini kami persilahkan tanggapannya di media-media sosial yang ada.

Gresik, 26 Juli 2020 []

Catatan:
[1] Lihat : Mukhtar Ash-Shihah, hal 560
[2] Al-Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu jilid 3 hal. 594
[3] Ad-Durr Al-Mukhtar 5/219, Tabyin Al-Haqa’iq 6/2, Taklimah Al-Fath 8/66
[4] Mughni Al-Muhtaj 4/282, Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim 2/304, Kassyaf Al-Qina’ 2/615
[5] Lihat : Tabyin Al-Haqa’iq 6/2, Al-Badai’ 5/62
[6] HR. Ahmad dan Al-Baihaqi
[7] Lihat : Bidayah Al-Mujtahid 1/415, Mughni Al-Muhtaj 3/282, Al-Mughni 8/617
[8] HR. Jama’ah kecuali Al-Bukhari
[9] HR. Ahmad dan Al-Hakim
[10] HR. Al-Baihaqi
[11] HR. Ahmad dan para penulis kitab sunan
[12] Lihat : Al-Muhaddzab 1/237
[13] HR. At-Tirmidzi
[14] (HR. Abu Ya’la Al-Mushili)
[15] (HR. Malik, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
[16] Lihat :Tabyin Al-Haqa’iq 3/6, Syarh Ar-Risalah karya Ibnu Abi Zaid Al-Qayrawani 1/367, Hasyiyah Al-Bajuri 2/304, Kassyaf Al-Qina’ 3/18

Penulis: Tajun Nasher
(Aktivis KAMMI Pengurus Wilayah Jawa Timur Bidang Kaderisasi, saat ini berprofesi sebagai dosen STIT Maskumambang Gresik dan Penyuluh Agama Islam Non-PNS Kabupaten Gresik)

Editor: Misbakhul

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *