Queen’s Leadership

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Sumber Gambar: Dorotheum

Dalam rumah tangga, tidak bisa dimungkiri bahwa suami adalah imam, pemimpin rumah tangga. Sehingga, sehebat apapun seorang perempuan, secakap apapun kemampuan berorasi dan menulisnya, seberpengaruh apapun ia di luar sana sebagai aktivis, di rumah ia harus menjadi makmum yang baik.

Firman Allah di dalam QS al- Nisa’ : 34 : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga dijelaskan bahwa, “Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.”

Kondisi ini membuat posisi perempuan untuk aktif dalam dunia pergerakan menjadi cukup sulit. Di satu sisi, panggilan jiwa untuk bergerak begitu menggebu-gebu, di sisi lain boleh jadi suami tidak berkenan jika sang istri lebih banyak berada di luar. Lantas, apakah kondisi yang demikian menjadi sebuah excuse bagi seorang aktivis perempuan untuk tidak bergerak? Berhenti bergerak sama sekali setelah menikah?

Memaknai Queen’s Leadership; Sebuah Kepemimpinan di Balik Layar

Dalam konstelasi politik kuno, perempuan tidak banyak mendapat peran sebagai front liner sepeti hari ini. Akan tetapi mereka memiliki peran yang tidak kalah strategis, yaitu sebagai pembisik bagi para suami. Ijinkan saya menyebut kualitas ini sebagai Queen’s Leadership. Sebuah kemampuan memimpin dari balik layar, mengatur strategi, menyusun jalannya ceritera, kemudian dengan halus mendorong para pemimpin di garis depan untuk mengeksekusinya.

Di zaman dinasti Syailendra dulu, pernah hidup seorang Ratu bernama Pramodhawardhani. Ratu ini berhasil membujuk sang Raja untuk membebaskan rakyat dari segala macam pajak. Padahal, saat itu kerajaan sedang membangun sebuah mega proyek bernama Borobudur. Kita bisa lihat betapa hebatnya the power of queen’s leadership.

Pada era keemasan Majapahit, kita mengenal visi menyatukan Nusantara yang masyhur dipublik sebagai narasi Mahapatih Mpu Gajahmada. Padahal, kalau kita cermati sejarah lebih dalam, visi tersebut ternyata datangnya dari guru ideologis Mpu Gajahmada, yaitu Gayatri Rajapatni yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri dari Prabu Rama Wijaya, pendiri Majapahit.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Gayatri Rajapatni perempuan di balik kejayaan Majapahit’, Earl Drake menjelaskan bahwa Gayatri ini seorang perampuan yang cerdas, lincah dan suka membaca. Sehingga banyak mengerti masalah politik dan pemerintahan.

Queen’s leadership ada satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar, yaitu menikah dengan seorang King atau seorang laki-laki yang memiliki pengaruh. Jadi sehebat apapun seorang aktivis perempuan memainkan queen’s leadership, jika pasanganya bukan seorang yang berpengaruh, bukan orang-orang yang memiliki posisi strategis, maka ide-ide yang ia bawa tidak akan ada yang mengeksekusi.

Jikalau menikah bagi seorang aktivis perempuan membawa sebuah konsekuensi logis untuk lebih banyak di rumah, maka pastikan bahwa anda menikah dengan laki-laki yang powerful agar strategi queen’s leadership tetap dapat dijalankan.

Hari ini, dengan rasio jumlah aktivis laki-laki dan perempuan yang tidak berimbang, para aktivis perempuan yang lebih banyak jumlahnya, seyogyanya tidak semata berfikiran untuk membangun keluarga bersama sesama aktivis. Di luar sana, juga banyak laki-laki shaleh yang bekerja di sektor-sektor yang juga strategis seperti militer, kepolisian, dan birokrasi.

Orang-orang baik dan amanah ini, dikemudian hari akan semakin memberikan kontribusi bagi umat jikalau di sampingnya ada perempuan hebat. Lebih-lebih jika pernah ditempa dalam dunia aktivisme. Di sinilah queen’s leadership dapat dipraktikkan. Dapatlah pameo di belakang laki-laki yang hebat ada perempuan yang hebat pula kita jadikan hujjah untuk strategi queen’s leadership ini.

Tiga Kualitas Queen’s Leadership

Para aktivis perempuan harus menempa diri menjadi seorang queen. Karena mereka kelak akan menjadi ibu negara, ibu panglima, ibu komandan, ibu jaksa, ibu hakim, dst. Sehingga tiga kualitas berikut harus betul-betul disiapkan. Yang pertama adalah penampilan yang patut.

Tidak dapat dibohongi penampilan menjadi pertimbangan utama bagi orang awam. Apalagi bagi para pejabat yang sering berada dalam acara-acara formal. Maka kemampuan seorang aktivis perempuan untuk berdandan dengan patut menjadi sangat penting. Toh, dikemudian hari, jika menikah dengan seorang pejabat sipil maupun militer, mereka harus sering muncul di depan umum untuk memberikan sambutan atau gagasan.

Kualitas yang kedua adalah kemampuan mengelola keuangan. Tidak bisa dimungkiri, hidupnya para pejabat di segala sektor ini dekat dengan yang namanya sumber daya. Jikalau para aktivis perempuan yang menjadi queen ini mampu memanagenya dengan baik, maka sumber daya tersebut dapat memberikan maslahat bagi ummat.

Lebih penting lagi, peran para aktivis perempuan sebagai queen untuk membentengi para suami agar tidak korupsi merupakan hal yang lebih mendasar. Di sinilah kemampuan mengelola keuangan sehingga rasa cukup dan syukur bisa muncul sangat diperlukan.

Kualitas yang ketiga adalah kepemimpinan dan pengetahuan kebangsaan. Saya kira ini tiada perlu dibahas panjang lebar karena sudah menjadi makanan sehari-hari para aktivis selagi ditempa di kampus. Moga-moga para aktivis perempuan dapat menemukan perannya sebagai seorang “Queen”. []

Penulis: Arif Syaifurrisal
Sekretaris Jendral KAMMI Jawa Timur

Editor: Misbakhul

Mas Admin

Mas Admin

Editor situs KAMMI Jawa Timur

One thought on “Queen’s Leadership”

Tinggalkan Balasan ke FgrsFluch Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *